Pendidikan sekolah luar biasa tidak mengutamakan akademik, namun justru mengedepankan vocasional atau ketrampilan hidup. Sehingga ketika keluar dari sekolah luar biasa (SLB) mereka sudah dapat hidup mandiri. Sekolah Luar Biasa (SLB) Purbalingga tidak ingin lulusannya menjadi pengemis.
Ketua panitia Semarak Disabilitas Sekolah Luar Biasa (SLB) Purbalingga Retno Indrawati SPd disela-sela acara, Rabu (4/5) pagi mengatakan, kegiatan Semarak Disabilitas bertemakan Kenali Aku, Sayangi Aku ini merupakan kegiatan pertama kali. Dalam acara ini dipamerkan hasil dari vocasional siswa SD,SMP dan SMA LB mulai dari melukis, batik, pertanian, prakarya, salon, tata boga sampai pada cuci motor.
Vocasional atau ketrampilan hidup ini sengaja dikedepankan, karena sekolah tidak ingin anak didik lulusan SLB menjadi pengemis.
Dijelaskan Retno, kendala yang dihadapi SLB Purbalingga berupa minimnya tenaga pendidik atau guru. Dari 293 siswa yang ada, SLB Purbalingga hanya memiliki 18 orang guru. Padahal idealnya 1 guru mengajar 5 siswa. Pihaknya sempat mengusulkan penambahan tenaga guru melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) sebanyak 18 guru, namun sampai saat ini belum ada tanggapan.
Mendesaknya kebutuhan guru, menjadikan SLB Purbalingga merekrut guru wiyatabakti sebanyak 20 orang. Kebutuhan guru lebih banyak merupakan guru ketrampilan seperti tata boga maupun tat arias. Karena untuk membekali para lulusan agar memiliki ketrampilan hidup dan mampu mandiri.
 
Semarak Disabilitas digelar di halaman sekolah setempat. Kegiatan ini juga dilengkapi stan-stand hasil karya siswa yang dijual untuk umum, termasuk stand batik, stand cuci motor dan salon atau potong rambut.(umang-kominfo)