Sebuah program radio yang diproduksi oleh station radio dikatakan bagus, menarik dan bermanfaat ketika program tersebut mampu mengubah perilaku pendengar. Pasalnya seringkali sebuah stadiu radio membuat program acara, hanya dikatakan baik versi stasiun radio sendiri. Belum tentu program yang dikatakan bagus, menarik tersebut, menarik pula bagi pendengar.
Baryati S Kom mengatakan hal ini ketika menjadi narasumber dalam kegiatan Rapat Evaluasi Siaran Radio Edukasi dengan Mitra  Radio Edukasi (Tradisi) di Owabong Cottage Kamis sore (7/4).
Kegiatan Rapat Evaluasi berlangsung dua hari Kamis-Jumat (7-8/4) ini diikuti oleh pengurus Mitra Radio Edukasi (Tradisi) Balai Pengembangan Media Radio Pendidikan dan Kebudayaan (BPMR-PK) Kemendikbud.
Dijelaskan Baryati, seringkali programmer membuat acara tanpa mengetahui kebutuhan dan keinginan pendengar. Padahal program radio diperuntukan bagi pendengar, meskipun harus sesuai dengan tujuan pembuatan program tersebut.
Termasuk pula program-program radio edukasi produksi BPMR-PK yang diputar di radio mitra. Pasalnya untuk mengetahui sebuah program radio baik dan bermanfaat diperlukan sebuah survey. Padahal program pendidikan yang diproduksi BPMR-PK bukanlah program dua arah (take and give) yang dapat diketahui respon langsung pendengar.
Ketua Mitra Radio Edukasi (Tradisi) Umang Sumarsono mengatakan, kegiatan rapat Evaluasi Pelaksanaan Siaran Radio Edukasi salah satunya adalah untuk mengevaluasi program yang telah disiarkan di radio mitra.
Sedangkan survey pendengar secara resmi belum pernah dilakukan oleh stasiun radio.. pihaknya sangat mendukung jika ada pihak independent yang benar-benar melakukan survey pendengar. Sehingga para pengelola radio mengetahui apa yang menarik, dibutuhkan dan bermanfaat bagi pendengar.
 
Sedangkan untuk konten pendidikan, agar didengar dan mampu mengubah perilaku masyarakat diperlukan bungkus yang menarik. Ibarat minum obat, meskipun pahit, tetapi harus tetap diminum.(umang-kominfo)