PURBALINGGA INFO – Pemerintah Kabupaten Purbalingga terus memperkuat penanganan sampah untuk mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi masyarakat. Upaya tersebut dilakukan dengan mendorong perubahan perilaku warga dalam memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah sehingga volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan.
Hal tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Teknis Pembinaan Pengelolaan Sampah serta Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) yang digelar di Ruang Rapat Bupati Purbalingga, Rabu (11/3/26). Kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup melalui Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa tersebut juga diikuti peserta dari Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo.

Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif melalui Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Purbalingga, Suroto, menyampaikan forum ini menjadi bagian dari penguatan komitmen daerah dalam meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan hidup. Menurutnya, dari berbagai isu lingkungan yang ada, persoalan sampah menjadi salah satu yang paling krusial karena berdampak langsung terhadap kesehatan dan kualitas lingkungan masyarakat.
“Jika persoalan ini tidak segera direspons secara tepat dan cepat, tentu akan menjadi masalah serius dan menimbulkan dampak sistemik, mulai dari kesehatan hingga lingkungan,” ujar Suroto.

Ia menekankan pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya melalui kesadaran dan tanggung jawab bersama. Perilaku mengurangi, memilah, dan mengolah sampah perlu terus didorong agar jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat dapat ditekan semaksimal mungkin.
“Harapannya ke depan, tempat pembuangan akhir bukan lagi sekadar tempat membuang sampah, tetapi menjadi tempat pengolahan sampah yang efektif. Ini membutuhkan kesadaran bersama, baik individu maupun institusi,” katanya.

Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa Eduward Hutapea menyampaikan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) memiliki peran penting dalam memperbaiki sistem pengelolaan sampah di daerah. Menurutnya, KIE bukan hanya kegiatan sosialisasi, tetapi bagian dari upaya membangun budaya hidup berkelanjutan di masyarakat.
“Investasi besar pada infrastruktur pengolahan sampah tidak akan optimal jika sampah yang masuk masih tercampur. Karena itu perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah dari rumah menjadi kunci utama,” ujar Eduward.

Ia menjelaskan pemilahan sampah sejak dari sumber tidak hanya menekan biaya pengolahan, tetapi juga dapat mengurangi beban tempat pemrosesan akhir hingga lebih dari setengahnya serta meningkatkan kualitas bahan baku bagi industri daur ulang.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DLHPKP) Purbalingga Bambang Triono menyampaikan pemerintah daerah terus memperkuat berbagai strategi untuk meningkatkan kinerja pengelolaan sampah. Pada tahun anggaran 2025, total anggaran pengelolaan sampah dari seluruh perangkat daerah di Purbalingga mencapai sekitar Rp21,9 miliar.

Ia mengatakan upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak fasilitas pengolahan sampah di masyarakat seperti bank sampah, TPS 3R dan TPST, mengoptimalkan fasilitas yang belum berjalan maksimal, serta mendorong desa dan kelurahan mandiri sampah melalui edukasi pemilahan dan pengolahan sampah rumah tangga.
“Melalui langkah ini diharapkan pengelolaan sampah di Purbalingga semakin efektif sekaligus memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat,” kata Bambang. (dhs/Kominfo)





