PURBALINGGA – Bencana tanah longsor terjadi di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, pada Minggu (12/4/2026). Peristiwa ini mengakibatkan satu warga meninggal dunia, satu orang lainnya mengalami luka, serta tiga rumah warga rusak terkena runtuhan material tanah dan batu.

Kejadian longsor tepatnya terjadi di RT 14 RW 5 Dusun Tambleg Pondokangka. Material longsoran dari tebing di belakang permukiman warga tiba-tiba runtuh dan menghantam bagian belakang rumah, sehingga menyebabkan kerusakan cukup parah pada bangunan terdampak.

Menanggapi kejadian tersebut, Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, bersama sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Purbalingga, langsung turun ke lokasi untuk meninjau kondisi sekaligus memastikan penanganan berjalan optimal.

Dalam kunjungannya, Bupati menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban meninggal dunia serta memberikan dukungan moril kepada warga terdampak. Ia juga menyerahkan bantuan berupa santunan duka yang bersumber dari Pemkab Purbalingga, Baznas, dan PMI sebagai bentuk kepedulian dan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.

“Kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya. Kami ikut berduka atas musibah ini. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan,” ujar Bupati Fahmi.

Bupati menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen untuk hadir secara cepat dalam setiap kondisi darurat, tidak hanya dalam penanganan awal, tetapi juga dalam upaya pemulihan pascabencana agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman dan nyaman.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Purbalingga, Revon Haprindiat, menjelaskan bahwa tiga rumah yang terdampak longsor masing-masing milik Sunaryo, Sugiatno, dan Yono. Kerusakan terjadi akibat longsoran tanah dan bebatuan yang berasal dari tebing curam di belakang permukiman.

Berdasarkan hasil kajian awal dari Tim Geologi Universitas Jenderal Soedirman, kondisi tebing di lokasi kejadian memiliki kemiringan yang sangat curam, bahkan mendekati 90 derajat, sehingga berpotensi tinggi mengalami longsor ketika terjadi ketidakstabilan lereng.

“Longsor berasal dari tebing yang sangat curam di belakang rumah warga. Ketika terjadi ketidakstabilan lereng, material bebatuan langsung runtuh dan mengenai permukiman,” jelas Revon.

Ia menambahkan, proses penanganan di lokasi menghadapi kendala akses yang sulit dijangkau alat berat. Oleh karena itu, upaya evakuasi material dilakukan secara manual dengan memecah batu dan membersihkan area terdampak secara bertahap.

Sebagai langkah mitigasi ke depan, pihaknya dan Tim Geologi UNSOED merekomendasikan penataan lereng dengan sistem berundak atau terasering guna mengurangi risiko longsor susulan. Selain itu, masyarakat juga diajak untuk melakukan pembersihan lereng secara gotong royong dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan.

“Dengan penataan lereng berundak, diharapkan jika terjadi longsor, material paling tidak dapat tertahan dan tidak langsung mengenai permukiman warga,” pungkasnya.

Melalui langkah cepat penanganan dan kolaborasi antara pemerintah daerah, instansi terkait, serta masyarakat, diharapkan dampak bencana dapat diminimalisir dan kondusifitas di wilayah rawan bencana semakin meningkat. (GIN/Kominfo)