PURBALINGGA — Sebanyak 3.000 anak usia dini dari jenjang Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), dan Satuan PAUD Sejenis (SPS) se-Kabupaten Purbalingga memadati kawasan Sanggaluri Park pada Rabu (13/5/2026). Mereka hadir dalam Festival Dolanan Bocah #3 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Purbalingga. Festival tahunan yang kini menjadi salah satu upaya terstruktur daerah dalam melestarikan permainan tradisional sebagai bagian dari pendidikan anak usia dini.

Festival tahun ini mengusung tema “Melestarikan Dolanan Tradisional Warisan Budaya untuk Pendidikan Anak Usia Dini Berkualitas.” Selain pertunjukan budaya, festival menghadirkan beragam lomba permainan tradisional yang dirancang sesuai tahap perkembangan anak mulai dari permainan ketangkasan individual hingga permainan kooperatif yang mendorong interaksi sosial. Setiap jenis dolanan yang dilombakan dipilih berdasarkan kandungan nilai edukatifnya, bukan semata hiburan.

Ketua Himpaudi Purbalingga, Marsusiah, dalam laporannya menyebut festival ini sebagai respons nyata terhadap tantangan yang dihadapi pendidik PAUD saat ini. “Festival ini adalah media belajar yang melatih anak-anak dan menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal,” ujarnya. Marsusiah menambahkan, pihaknya mendorong agar dolanan tradisional tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan menjadi bagian tetap dari pendidikan karakter di seluruh satuan PAUD Purbalingga.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Heru Sri Wibowo, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar festival budaya biasa. Dalam sambutannya, ia menyebut Festival Dolanan Bocah #3 sebagai implementasi langsung dari program nasional tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat yang saat ini tengah digencarkan pemerintah pusat. “Dolanan tradisional mengajarkan disiplin, sportivitas, dan gotong royong, nilai-nilai yang menjadi inti dari kebiasaan anak Indonesia hebat yang ingin kita tumbuhkan sejak dini,” ujarnya.

Bunda PAUD Purbalingga, Syahzani Fahmi Muhammad Hanif, hadir dan menyampaikan pesan yang langsung menyentuh persoalan konkret yang dihadapi banyak keluarga saat ini. Ia tidak menghindari fakta bahwa penggunaan gawai di kalangan anak usia dini sudah berada pada level yang patut diwaspadai. “Anak-anak perlu tetap dikenalkan dengan permainan tradisional, di tengah maraknya permainan digital,” tegasnya. Syahzani juga meluruskan persepsi yang selama ini menjadi hambatan. “Permainan tradisional bukanlah sesuatu yang kuno, melainkan kekayaan yang harus diwariskan kepada generasi mendatang,” tambahnya.

Untuk mempertegas pesan tersebut, Bunda PAUD mengajak seluruh peserta bernyanyi bersama, kemudian menuturkan sebuah dongeng berisi amanat tentang bahaya paparan gawai berlebihan dan pentingnya interaksi langsung antar anak. Cara penyampaian yang dekat dengan dunia anak ini dinilai efektif membawa pesan yang sulit disampaikan lewat ceramah biasa, dan riuh tepuk tangan ribuan anak yang memenuhi Sanggaluri Park menjadi jawabannya.

Data nasional menunjukkan bahwa rata-rata anak Indonesia menghabiskan lebih dari empat jam sehari di depan layar. Di sinilah relevansi festival seperti ini menjadi semakin tajam. Dolanan tradisional bukan sekadar nostalgia. Ini adalah alternatif nyata yang terbukti merangsang perkembangan motorik, kemampuan sosial, dan kecerdasan emosional anak secara bersamaan, hal yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh interaksi digital.

Bagi ribuan keluarga yang hadir, festival ini juga menjadi momen langka, orang tua dan anak bermain dan tertawa dalam satu ruang yang sama, tanpa layar di antara mereka. Itulah pesan terkuat yang dibawa Festival Dolanan Bocah kali ini bahwa kehadiran nyata, sentuhan langsung, dan tawa bersama adalah hal-hal yang tidak bisa diunduh dari mana pun. (GIN/Kominfo)