PURBALINGGA – Pameran fotografi bertajuk “Monokrom” karya seniman Djentot Subechi kembali digelar untuk kedua kalinya dan berlangsung hingga 10 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional sekaligus Bulan Menggambar Nasional 2026, dengan menghadirkan karya-karya visual yang mengusung kekuatan estetika hitam-putih.
Pameran yang digelar di Kie Art Space tersebut menampilkan sebanyak 50 karya fotografi monokrom. Setiap karya menghadirkan sudut pandang artistik yang menekankan komposisi, cahaya, serta makna visual tanpa distraksi warna.

Mengusung tema “Hitam-Putih” sebagai bahasa visual monokrom, pameran ini mengajak pengunjung untuk kembali pada esensi dasar fotografi. Pendekatan “back to basic” menjadi ruh utama dalam setiap karya yang dipamerkan.
Seniman Djentot Subechi menyampaikan bahwa monokrom bukan sekadar pilihan teknis, tetapi juga medium untuk menyampaikan emosi dan cerita secara lebih mendalam. “Selamat menikmati karya monokrom. Karena ini adalah karya yang back to basic,” ujarnya ketika gelaran perdana pameran, Sabtu (2/5/2026).

Menurutnya, keterbatasan warna justru mendorong fotografer untuk lebih peka terhadap detail, tekstur, dan permainan cahaya. Hal tersebut sekaligus menjadi proses pembelajaran yang penting, khususnya bagi generasi muda yang tertarik pada dunia fotografi.
Pameran ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga sarana edukasi publik. Pengunjung dari berbagai kalangan, termasuk pelajar dan komunitas kreatif, diajak untuk memahami nilai artistik sekaligus proses kreatif di balik karya fotografi.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Purbalingga, R. Budi Setiawan, dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya pameran tersebut. Ia menilai kegiatan ini mampu memperkuat ekosistem kreatif di daerah.
“Terus berkarya dan semoga bisa menularkan ilmunya kepada generasi muda kita,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia berharap pameran ini dapat menjadi ruang ekspresi artistik sekaligus wadah edukasi dalam pemanfaatan teknologi secara kreatif dan inovatif, khususnya dalam ranah komunikasi visual.
Dengan menghadirkan karya yang sederhana namun sarat makna, pameran “Monokrom” diharapkan mampu menumbuhkan minat masyarakat terhadap seni fotografi sekaligus memperluas wawasan visual publik.

Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa ruang-ruang seni di daerah memiliki potensi besar untuk berkembang, sekaligus berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih kreatif, kritis, dan apresiatif terhadap karya seni. (GIN/Kominfo)




