PURBALINGGA – Para perajin batik di Purbalingga terus membenahi kualitas produksi agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas, di tengah kondisi daya beli masyarakat yang sempat memengaruhi penjualan.

Ketua Forum Perajin Batik Purbalingga (FPBP) Titin Wahyuningsih mengatakan pembenahan dilakukan mulai dari keterampilan membatik, teknik pewarnaan hingga keseragaman motif. Hal itu disampaikan dalam kegiatan membatik bersama FPBP di Tien Batik, Desa Mangunegara, Kecamatan Mrebet, Jumat (2/10/2026), yang digelar untuk memperingati Hari Batik Nasional.

Kegiatan membatik bersama tersebut sekaligus menjadi ruang bagi para perajin untuk terus berlatih dan memperkenalkan batik kepada masyarakat. Titin berharap batik Purbalingga semakin dikenal di luar daerah sehingga membuka pasar yang lebih luas bagi produk para pembatik.

“Harapannya pembatik Purbalingga semakin terkenal, tidak hanya di Purbalingga, tetapi bisa nasional, syukur-syukur bisa mendunia,” katanya.

Salah satu upaya meningkatkan kualitas dilakukan melalui pelatihan membatik motif Naga Tapa pada 26-29 September 2026. Pelatihan tersebut diikuti perajin dari tujuh sentra yang berdasarkan hasil monitoring Dekranasda Purbalingga masih membutuhkan peningkatan kualitas.

“Pelatihan kemarin sangat bermanfaat. Teknik, pewarnaan dan motifnya disamakan supaya kualitas batik bisa lebih bagus dan standar,” kata Titin.

Titin mengatakan kondisi batik Purbalingga sempat mengalami penurunan seiring daya beli masyarakat dan kondisi perekonomian. Namun, perhatian pemerintah kepada para perajin kini mulai dirasakan manfaatnya. Salah satunya melalui pelatihan yang membantu perajin meningkatkan dan menyamakan kualitas batik, selain dukungan untuk memperluas pemasaran.

Saat ini FPBP memiliki 219 anggota, sedangkan sekitar 111 pembatik lainnya belum bergabung dalam forum. Mereka tersebar di sejumlah sentra, antara lain Tlahab Lor, Tlahab Kidul, Karangduren, Dagan, Metenggeng, Mangunegara, Kutawis, Peniron, Pakiringan dan Pandansari.

“Banyak perajin yang hanya bergantung dari hasil membatik. Saya sendiri usahanya juga membatik, jadi berharap pemerintah mau mengangkat batik supaya lebih berkembang lagi,” ujarnya.

Penetapan motif Naga Tapa sebagai batik khas Kabupaten Purbalingga melalui Peraturan Bupati Purbalingga Nomor 41 Tahun 2026 juga diharapkan membuka ruang lebih besar bagi perajin untuk memproduksi batik dengan identitas daerah. Titin berharap pemanfaatan motif tersebut nantinya juga diikuti dukungan pemasaran sehingga produk yang dihasilkan semakin banyak terserap pasar.

Wastralingga di kompleks Taman Kota Usman Janatin menjadi salah satu tempat pemasaran produk perajin dari berbagai sentra batik Purbalingga. Pengelola Wastralingga, Tri Kusnaeni, mengatakan keberadaan pusat pemasaran di tengah kota memudahkan masyarakat mendapatkan batik Purbalingga tanpa harus mendatangi sentra produksinya satu per satu.

“Dengan adanya Wastralingga di Taman Kota Usman Janatin, penjualannya lebih mudah. Tidak hanya batik, perajin juga membuat produk turunannya seperti blangkon dan pakaian jadi,” katanya. (dhs/Kominfo)