PURBALINGGA – Festival Gunung Slamet (FGS) kembali mengukuhkan posisinya sebagai salah satu agenda pariwisata unggulan nasional setelah untuk ketiga kalinya berturut-turut masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata RI. Pengakuan tersebut menegaskan kualitas penyelenggaraan festival sekaligus memperlihatkan keberhasilan Kabupaten Purbalingga mengembangkan pariwisata berbasis budaya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Keberhasilan tersebut bukan sekadar prestasi di tingkat nasional, tetapi juga membawa dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Pada penyelenggaraan tahun 2025, Festival Gunung Slamet berhasil menarik sekitar 50 ribu pengunjung dan menciptakan perputaran ekonomi lebih dari Rp3,5 miliar hanya dalam tiga hari. Tahun ini, Festival Gunung Slamet ke-9 yang digelar pada tanggal 3–5 Juli 2026 di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, diproyeksikan mampu melampaui capaian tersebut seiring meningkatnya antusiasme wisatawan.

default

Kawasan lereng Gunung Slamet memiliki kekayaan alam, budaya, dan tradisi yang menjadi identitas masyarakat setempat. Melalui pengembangan desa wisata dan penyelenggaraan Festival Gunung Slamet secara berkelanjutan, berbagai potensi semakin menambah nilai ekonomi sehingga mampu membuka peluang usaha, memperluas promosi produk lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Melihat potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Purbalingga bersama Kementerian Pariwisata, Pemerintah Desa Serang, komunitas, dan masyarakat terus memperkuat pengembangan desa wisata melalui penyelenggaraan Festival Gunung Slamet secara konsisten. Mengusung tema “Merawat Budaya Menggerakkan Ekonomi Desa”, festival ini menjadi ruang kolaborasi yang memadukan pelestarian budaya, promosi pariwisata, pemberdayaan UMKM, serta penguatan identitas desa.

Kini manfaatnya semakin dirasakan masyarakat. Kehadiran puluhan ribu wisatawan setiap tahun memberikan peluang usaha bagi pelaku UMKM, pedagang, pengelola homestay, penyedia jasa transportasi lokal, hingga pelaku ekonomi kreatif. Festival ini membuktikan bahwa budaya bukan hanya warisan yang dijaga, tetapi juga dapat menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan.

Berbagai atraksi budaya khas masyarakat lereng Gunung Slamet menjadi daya tarik utama Festival Gunung Slamet, mulai dari ritual Pengambilan Air Sikopyah, Perang Tomat, Tari Kolosal, hingga Rebutan Gunungan hasil bumi. Seluruh rangkaian kegiatan tidak hanya memberikan pengalaman autentik bagi wisatawan, tetapi juga menjadi media pelestarian tradisi yang diwariskan kepada generasi muda. Kemeriahan festival turut dimeriahkan penampilan musisi nasional Parade Hujan dan sejumlah seniman lokal.

Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, mengatakan Festival Gunung Slamet merupakan langkah strategis untuk memperkuat pembangunan kawasan wisata lereng Gunung Slamet yang terintegrasi dan berkelanjutan. Hal tersebut ia sampaikan ketika sambutan dalam rangkaian acara Akustik Kabut Lembut FGS 2026, Sabtu malam, (4/7/2026).

“Ke depan kami ingin kawasan lereng Gunung Slamet menjadi destinasi unggulan yang memberikan pengalaman wisata secara utuh. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Purbalingga menyiapkan konsep One Stop Solution Tourism yang mengintegrasikan Desa Serang, Kutabawa, dan Siwarak. Wisatawan dapat menikmati alam, budaya, kuliner, hingga menginap dalam satu kawasan, sementara masyarakat menjadi pelaku utama yang memperoleh manfaat ekonomi dari seluruh rantai pariwisata. Inilah arah pembangunan pariwisata Purbalingga, yakni pariwisata yang tumbuh bersama masyarakat dan menyejahterakan masyarakat,” ujar Bupati Fahmi.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap inovasi desa wisata, Pemerintah melalui Dinporapar Kabupaten Purbalingga juga menyerahkan sejumlah penghargaan pada gelaran Festival Gunung Slamet 2026. Desa Panusupan meraih penghargaan Stand Terbaik dan Gelar Produk Terbaik, Desa Selakambang dinobatkan sebagai Penampil Atraksi Seni Budaya Terbaik, sedangkan Gelar Desa Wisata menempatkan Desa Tanalum sebagai Juara III, Desa Selakambang sebagai Juara II, dan Desa Karangcengis sebagai Juara I. Desa Karangcengis selanjutnya akan mewakili Kabupaten Purbalingga pada ajang desa wisata tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Untuk memperluas manfaat ekonomi yang telah dirasakan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Purbalingga menyiapkan pengembangan kawasan wisata terpadu melalui konsep “One Stop Solution Tourism” mulai tahun 2027. Konsep ini akan mengintegrasikan potensi Desa Serang, Desa Kutabawa, dan Desa Siwarak sehingga wisatawan dapat menikmati wisata alam, budaya, kuliner, hingga akomodasi dalam satu kawasan yang saling terhubung. Strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan sekaligus memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat di kawasan lereng Gunung Slamet.

Festival Gunung Slamet menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan selaras dengan pembangunan ekonomi masyarakat. Melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan, Purbalingga terus memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata berbasis budaya yang tidak hanya membanggakan di tingkat nasional, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata berupa terbukanya peluang usaha, meningkatnya pendapatan masyarakat, serta terwujudnya desa-desa wisata yang semakin sejahtera. (GIN/Kominfo)