PURBALINGGA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga menegaskan komitmennya dalam memperkuat kesiapsiagaan daerah melalui inovasi tata kelola kebencanaan berbasis masyarakat. Langkah strategis ini dikupas tuntas dalam program dialog interaktif “NGOPI PAGI” (Ngobrol Program dan Inovasi) yang diselenggarakan oleh LPPL Radio Gema Soedirman 96.3 FM Purbalingga pada Kamis (2/7). Acara yang disiarkan secara rutin setiap pukul 09.00 WIB ini menjadi ruang edukasi publik interaktif, di mana masyarakat dapat memantau jalannya diskusi baik melalui frekuensi radio maupun tayangan langsung di kanal YouTube resmi milik lembaga penyiaran publik lokal tersebut.
Peningkatan kesiapsiagaan ini dirasa sangat krusial mengingat tantangan cuaca ekstrem dan dampak fenomena alam yang kian dinamis di wilayah Jawa Tengah. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino yang melanda diperkirakan memicu kemarau panjang yang akan berlangsung hingga awal tahun 2027 mendatang. Merespons ancaman tersebut, jajaran personel BPBD Purbalingga telah bergerak cepat dan sigap dengan mendistribusikan bantuan pasokan air bersih secara berkala ke berbagai wilayah yang mulai terdampak krisis kekeringan parah, di antaranya mencakup Desa Kutabawa, Desa Serang, Desa Karanganyar, hingga Desa Gumiwang.
Melalui momentum ini, BPBD Purbalingga ingin menghadirkan paradigma baru penanganan dampak iklim yang menempatkan warga sebagai subjek aktif, bukan sekadar objek penerima bantuan. Dulu masyarakat menghadapi kesulitan besar dalam mengakses air bersih serta lambatnya penanganan kedaruratan akibat kekeringan yang meluas, karena itu Pemerintah melakukan langkah responsif melalui distribusi logistik yang masif serta meluncurkan sistem manajemen bencana yang terintegrasi, sekarang masyarakat bisa merasakan ketenangan dengan jaminan pelayanan pemenuhan air bersih yang tepat waktu serta kepastian perlindungan yang tanggap dan akuntabel.

Hadir sebagai narasumber utama dalam episode dialog kali ini, Sekretaris BPBD Kabupaten Purbalingga, Aris Mulyanto, memaparkan secara komprehensif mengenai terobosan teranyar yang dinamakan inovasi “Ksatria Miguno”. Konsep pemikiran ini dirancang sebagai panduan moral sekaligus panduan taktis operasional penanggulangan bencana di wilayah Kabupaten Purbalingga. Secara harfiah, identitas “Ksatria” dimaknai sebagai komitmen melahirkan pejuang kebencanaan yang memegang teguh moral kejujuran, dedikasi, serta tanggung jawab tinggi. Komponen utama dari pilar ini berfokus pada pemberian pelayanan penanganan yang serbacepat, penguatan komando dalam Integrasi Lintas Instansi melalui mekanisme One Command System, serta penyaluran dukungan logistik kedaruratan yang cepat dan transparan kepada korban terdampak.
“Dalam menghadapi potensi ancaman bencana yang kompleks seperti kemarau panjang akibat El Nino ini, kami sadar betul bahwa penanggulangan bencana tidak akan bisa berjalan optimal jika hanya mengandalkan kapasitas jajaran pemerintah semata. Oleh sebab itu, melalui filosofi Ksatria Miguno, kami menerapkan pendekatan kolaborasi Pentahelix secara konsisten dengan merangkul secara erat institusi pemerintah, dunia usaha, kalangan akademisi, rekan-rekan media, serta keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat dan relawan lapangan secara padu,” ujar Aris.
Sementara itu, pilar kedua dari inovasi ini yaitu “Miguno”, diartikan sebagai prinsip tepat guna dan berdaya manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. Manifestasi dari pilar ini diwujudkan melalui penguatan kapasitas masyarakat di tingkat akar rumput melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana). Hingga pertengahan tahun 2026 ini, BPBD Kabupaten Purbalingga tercatat telah berhasil membentuk dan membina sedikitnya 21 Destana yang tersebar di titik-titik rawan. Struktur kepengurusan Destana ini dirancang inklusif dengan merangkul seluruh komponen desa, mulai dari jajaran perangkat desa, kader PKK, organisasi Karang Taruna, tokoh pemuda, hingga tokoh agama setempat untuk berkolaborasi melakukan pemetaan risiko bencana mandiri.
Tidak hanya mengandalkan mitigasi konvensional, pilar Miguno juga diakselerasi dengan pemanfaatan teknologi digital tepat guna melalui pembentukan wadah Relawan Digital. Inovasi ini memosisikan warga, relawan tingkat desa, maupun instansi di wilayah Pemerintah Desa dan Kecamatan sebagai mata dan telinga resmi bagi BPBD dengan memanfaatkan fasilitas pelaporan cepat berbasis telepon genggam. Informasi akurat dari lapangan tersebut kemudian disinkronisasikan dengan sistem alat peringatan dini atau Early Warning System (EWS) tanah longsor maupun banjir yang telah dipasang di titik-titik rawan, serta ditunjang oleh program pelatihan untuk memberikan edukasi khusus agar warga mampu mandiri dan mengambil keputusan yang tepat saat berada dalam situasi darurat.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap warga memiliki kemampuan dasar untuk menyelamatkan diri dan lingkungannya sebelum bantuan dari tim ahli tiba di lokasi. Melalui program penunjang seperti ‘BPBD Go To School’, kami juga secara proaktif masuk ke sekolah-sekolah tingkat SMP hingga SMA/MA demi menanamkan budaya siaga gempa bumi dan mitigasi bencana sejak dini kepada generasi muda kita, di samping terus membuka ruang kolaborasi yang luas bagi komunitas pencinta alam yang menjadi garda terdepan penjaga kelestarian lingkungan hidup,” tambahnya.
Sebagai upaya menjaga keberlangsungan keselamatan publik jangka panjang, BPBD Purbalingga turut mengeluarkan seruan dan imbauan aksi nyata yang ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat. Warga diajak untuk kembali menghidupkan rasa empati, kepedulian sosial, serta semangat gotong royong yang menjadi akar budaya bangsa, terutama dalam saling membantu tetangga atau masyarakat sekitar yang sedang tertimpa musibah. Di samping itu, kesadaran ekologis kolektif harus terus ditingkatkan dengan cara menjaga kelestarian alam, tidak membuang sampah sembarangan yang memicu penyumbatan saluran air, menjaga area sekitar mata air, serta menggalakkan penanaman pohon yang memiliki kemampuan tinggi dalam mengikat dan menyimpan cadangan air dalam tanah.
BPBD juga memberikan atensi khusus bagi aktivitas luar ruangan di musim kemarau kering ini, dengan mengimbau para pendaki gunung untuk sangat berhati-hati dan tidak melakukan tindakan ceroboh seperti membuat perapian liar yang dapat memicu kebakaran hutan. Selaras dengan itu, seluruh warga diharapkan dapat mengelola pemakaian air bersih di rumah tangga secara bijak dan seefisien mungkin demi mengantisipasi penurunan debit sumber air permukaan yang terus merosot. Masyarakat juga diminta untuk tetap tenang, tidak panik, serta bersikap bijak dalam memilah informasi dengan tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan berita hoaks yang sengaja diembuskan oleh pihak tidak bertanggung jawab demi memicu kepanikan massal di tengah situasi krisis.
Demi memberikan jaminan rasa aman yang menyeluruh, BPBD Kabupaten Purbalingga telah membuka serta mempermudah seluruh kanal akses pelaporan dan pengaduan kedaruratan bagi warga. Apabila terdapat wilayah pemukiman yang mulai mengalami krisis air bersih yang parah atau mengalami musibah bencana lainnya, perwakilan warga dapat segera melapor secara resmi melalui sambungan telepon, SMS, maupun pesan singkat WhatsApp. Seluruh laporan yang masuk akan segera direspons secara cepat oleh tim piket reaksi cepat berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam kurun waktu maksimal 1×24 jam, yang kemudian langsung ditindaklanjuti dengan proses verifikasi faktual di lapangan guna memastikan intervensi bantuan yang disalurkan dapat tepat sasaran sesuai dengan skala prioritas kebutuhan. (GIN/Kominfo)



